Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono
Di Antara Luka Kemiskinan dan Senyum Pengabdian: Sepasang ASN Mengetuk Pintu-Pintu Harapan, Mengabdi Hingga Menyentuh Hati
Jember, rilisfakta.id – Jumat, (24/4/2026) Panas tak lagi terasa, lelah seakan sirna. Di pelosok Dusun Tugurejo, Desa Curahkalong, langkah kaki itu bukan sekadar menjalankan tugas—melainkan membawa harapan. Senin itu, (20 APRIL 2026) Sekretaris Kecamatan Bangsalsari, Turwantoko, bersama sang istri Tri Wahyuni,S.Pd., menyusuri jalanan sunyi, mengetuk satu per satu pintu rumah warga yang hidup dalam keterbatasan.
Bukan perjalanan biasa. Ini adalah potret nyata bagaimana pengabdian bertemu dengan kenyataan pahit: kemiskinan yang masih membekas, diam-diam, di sudut-sudut desa.
Dengan wajah tenang dan hati yang kuat, Turwantoko memilih menjalani tugas verifikasi dan validasi (verval) data kemiskinan bukan sebagai beban, melainkan sebagai panggilan jiwa. Bahkan, di tengah situasi yang menguras emosi, ia masih sempat tersenyum.
“Ini saya bersama istri, enjoy dan menikmati sambil refreshing, mengabdi sambil healing,” ucapnya ringan—meski realita di depan mata jauh dari kata ringan.

Langkah mereka terhenti di sebuah rumah mess perkebunan. Di sanalah Ibu Mani bertahan hidup. Rumah sederhana itu menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan yang ditinggal merantau suaminya, menghadapi kerasnya hidup sendirian.
Tak ada kemewahan. Tak ada kepastian. Hanya harapan yang terus ia genggam.
“Ini rumah perkebunan, suami saya merantau. Saya berterima kasih sudah didatangi, semoga bisa masuk data bantuan,” tuturnya lirih, dengan mata yang menyimpan harap sekaligus lelah.
Momen itu menghantam hati. Bukan sekadar data yang dicatat—melainkan kisah hidup yang tak bisa diabaikan. Turwantoko pun terdiam sejenak, menyadari bahwa di balik angka-angka, ada luka yang nyata.
“Dari sini kita jadi tahu, ternyata masih banyak yang perlu dibenahi. Ini bukan sekadar data, tapi tanggung jawab kita sebagai ASN,” ungkapnya, kali ini dengan nada yang lebih dalam.
Dalam satu hari, mereka memikul tanggung jawab mendata hingga 10 warga. Angka yang tampak kecil, namun di baliknya tersimpan beban besar: memastikan tak ada lagi yang terlewat, tak ada lagi yang tertinggal.

Program verval ini sendiri merupakan instruksi langsung Bupati Jember, Muhammad Fawait, sebagai langkah serius menembus kebuntuan data kemiskinan yang selama ini kerap menyisakan ketidakadilan. Ia menegaskan, tidak boleh lagi ada cerita pahit di tengah masyarakat.
“Sehingga tidak ada lagi yang mengatakan yang kaya dapat, yang miskin tidak,” tegasnya.
Dan hari itu, di jalanan kecil Dusun Tugurejo, komitmen itu benar-benar diuji. Bukan di ruang rapat, bukan di atas kertas—melainkan di depan pintu-pintu rumah yang menyimpan harapan.
Kisah Turwantoko dan istrinya menjadi potret bahwa pengabdian bukan hanya soal tugas, tetapi soal hati. Tentang bagaimana seorang ASN memilih untuk hadir, melihat, dan merasakan langsung denyut kehidupan warganya.
Di antara luka kemiskinan, mereka membawa senyum.
Di antara keterbatasan, mereka menyalakan harapan.
Dan dari setiap pintu yang diketuk, terselip doa-doa kecil—agar suatu hari nanti, tak ada lagi yang merasa dilupakan. (***)
![]()
