LAMPUNG SELATAN,RILISFAKTA.ID : 1 September 2026 — Menghadapi fenomena kemarau ekstrem El Niño, jajaran lintas sektor Kabupaten Lampung Selatan memperkuat sinergi terpadu guna memitigasi risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langkah antisipatif ini diperketat setelah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Lampung Selatan mencatat 128 peristiwa kebakaran sepanjang tahun 2026, dengan 55 kejadian di antaranya merupakan kebakaran lahan yang 100% dipicu aktivitas manusia.
Kepala Dinas Damkar Lampung Selatan, Sepri Masdian, mengungkapkan tren kebakaran lahan saat ini mulai mendekati pola El Niño tahun 2023 yang mencapai total 316 kejadian. Faktor pemicu mendominasi dari kelalaian pembakaran sampah, buang puntung rokok sembarangan, pembukaan lahan (land clearing), hingga unsur kesengajaan oleh oknum di sejumlah titik.
”Kondisi terik dan angin kencang memperparah risiko re-ignition atau munculnya kembali api dari bara tersembunyi di bawah permukaan vegetasi kering. Kami juga menegaskan kepada masyarakat bahwa seluruh pelayanan darurat Damkar adalah 100% GRATIS. Jika ada personel yang meminta biaya atau imbalan, segera laporkan langsung kepada saya,” tegas Sepri Masdian.
Menindaklanjuti instruksi strategis Presiden RI Prabowo Subianto dan Panglima TNI, tim penyuluh gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) diterjunkan langsung ke tingkat tapak. Di bawah koordinasi Danrem 043/Gatam Brigjen TNI Bangkit Rahmad Tri Widodo, M.Si. (Han) yang diwakili oleh Kolonel Adm Muhammad Sukirno, sebanyak 10 personel lintas matra (Darat, Laut, dan Udara) menggelar sosialisasi pencegahan secara intensif.
”Pemantauan satelit BMKG maupun BNPB merekam radiasi panas di wilayah ini, termasuk indikasi titik api di Kecamatan Rajabasa yang telah kami verifikasi langsung sebagai aktivitas pembakaran lahan skala kecil milik warga dan telah berhasil ditangani. Kesiapsiagaan masyarakat di lapangan adalah kunci utama agar potensi titik api tidak meluas,” ujar perwakilan tim penyuluh TNI.
Guna mendukung penanganan cepat, TNI bersama Polri, Damkar, BPBD, dan KPH Kehutanan turut menyiagakan posko pemantauan terintegrasi hingga tingkat Kodim dan Koramil setempat.
Perlindungan Kawasan Benteng Gunung Rajabasa
Camat Rajabasa, Firdaus, S.E., M.M., menekankan pentingnya perlindungan kawasan Gunung Rajabasa yang menjadi sumber kehidupan vital bagi 15 hingga 16 desa di wilayahnya. Mengatasi keterbatasan anggaran sosialisasi fisik, pihak kecamatan mengalihkan strategi edukasi melalui kanal digital, grup komunikasi desa, serta penggerak Karang Taruna.
”Kita pegang teguh falsafah lokal: ‘Mak kham siapa lagi, mak ganta kapan lagi’—kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi kita menjaga Gunung Rajabasa demi anak cucu kita,” kata Firdaus.
![]()

