Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono
Perjalanan Menegakkan Tauhid Nyai Imah: Dari Ujian Berat Hingga Istiqamah
Jember, rilisfakta.id – Nyai Imah (nama samaran) merupakan seorang perempuan yang kini menetap di wilayah Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember. Lahir di Kaliwates, Jember, pada 4 April 1971, ia merupakan putri dari seorang ulama asal Sampang, Madura, dan seorang muslimah asli Jember.
Dalam perjalanan hidupnya, Nyai Imah dikaruniai lima orang anak, empat di antaranya telah beranjak dewasa. Sejak muda, ia dikenal aktif mengajak masyarakat untuk memperkuat keimanan dan menegakkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awal perjalanan hidupnya, Nyai Imah mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di luar lingkungan keluarga. Ia kerap berpindah-pindah tempat tinggal dan jarang berkumpul dengan keluarga besar. Menurut penuturannya, hal tersebut dilakukan untuk menghindari perbedaan pandangan dan pemahaman. Dalam upaya tersebut ia juga pernah merantau ke Malaysia dan bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) bahkan beliau disana juga kerap mendapat siksaan.
Berbagai pengalaman selama merantau tersebut, menurut Nyai Imah, turut membentuk karakter dan cara pandangnya dalam memahami kehidupan, agama, serta pentingnya keteguhan hati dalam menjalani setiap ujian yang dihadapi.
Namun, perjalanan pembinaan tauhid yang ditempuhnya tidak selalu berjalan mulus. Menurut penuturannya, ia kerap mendapat tekanan, hingga perlakuan yang dianggap tidak adil dari sejumlah pihak di lingkungan sekitarnya. Berbagai ujian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang harus dihadapinya dalam menyampaikan pemahaman Ketauhidan yang diyakininya.
Puncak ujian tersebut terjadi pada tahun 2003. Saat itu, Nyai Imah harus menjalani proses hukum atas tuduhan penistaan agama. Dalam kondisi sedang mengandung, ia menjalani masa penahanan dan bahkan melahirkan anak terakhirnya ketika masih berada dalam tahanan. Selama kurang lebih tujuh bulan, ia menjalani kehidupan di balik jeruji sebelum akhirnya dinyatakan bebas dan kembali ke tengah masyarakat.
Meski pernah mengalami masa-masa sulit yang membekas dalam hidupnya, semangat Nyai Imah dalam melakukan pembinaan tauhid tidak pernah surut. Setelah bebas, ia terus melanjutkan berbagai kegiatan keagamaan yang diyakininya, termasuk menggelar kegiatan ijtima Al-Qur’an, haul rutin, serta forum-forum pembinaan yang bertujuan mempererat silaturahmi dan memperdalam pemahaman keislaman.
Dalam berbagai kesempatan, Nyai Imah juga sering menyampaikan pentingnya memahami nilai-nilai rasa dalam perjalanan spiritual seorang hamba kepada Allah SWT. Menurutnya, pemahaman tersebut sejalan dengan ajaran tentang “muara rasa” yang pernah disampaikan oleh seorang ulama sepuh dari kawasan Tempurejo, Jember.
Hingga saat ini, di usia yang tidak lagi muda, Nyai Imah tetap istiqamah menjalankan aktivitas pembinaan umat dalam bidang ketauhidan. Baginya, setiap ujian yang pernah dilalui bukanlah alasan untuk berhenti berjuang, melainkan pelajaran berharga yang semakin menguatkan keyakinan dan pengabdiannya dalam menyebarkan nilai-nilai tauhid di tengah masyarakat.

“Perjuangan menegakkan tauhid tidak selalu mudah. Namun selama masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT, saya akan terus berusaha mengajak kepada kebaikan dan mempererat persaudaraan umat,” ungkap Nyai Imah. (Catur)
![]()

