Eskul Pramuka Di SDN Selodakon 04 Berakhir Viral, Pemdes Selodakon Soroti Aksi Kekerasan yang Diduga Direkam dan Diviralkan Sendiri Tekankan Jangan Ada Damai Agar Menjadi Pembelajaran

Eskul Pramuka Di SDN Selodakon 04 Berakhir Viral, Pemdes Selodakon Soroti Aksi Kekerasan yang Diduga Direkam dan Diviralkan Sendiri Tekankan Jangan Ada Damai Agar Menjadi Pembelajaran
Bagikan berita ini :

Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono

Eskul Pramuka Di SDN Selodakon 04 Berakhir Viral, Pemdes Selodakon Soroti Aksi Kekerasan yang Diduga Direkam dan Diviralkan Sendiri Tekankan Jangan Ada Damai Agar Menjadi Pembelajaran

Jember, rilisfakta.id – Senin, (10/8/2026) Beredarnya video dugaan kekerasan terhadap seorang siswi sekolah dasar di Desa Selodakon, Kecamatan Tanggul, Jember, menjadi perhatian serius. Selain dugaan kekerasan terhadap anak, kronologi beredarnya video tersebut juga menjadi sorotan karena rekaman diduga dibuat atas permintaan pihak yang terlibat dalam aksi tersebut dan kemudian tersebar ke publik.

Informasi yang berkembang menyebut video tersebut awalnya direkam menggunakan telepon seluler milik salah satu pihak yang terlibat. Rekaman kemudian dikirim ke sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan enam orang.

Dari lingkaran tersebut, video selanjutnya keluar dari grup dan menyebar hingga ke media sosial. Dengan demikian, berdasarkan informasi sementara, video tersebut diduga bukan semata-mata ditemukan atau direkam oleh pihak luar, melainkan dibuat dan kemudian diviralkan dari lingkungan pihak yang terlibat dalam kejadian.

Pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait rangkaian penyebaran video tersebut.

Pemdes Selodakon: Kejadian Harus Jadi Evaluasi

PJ Kepala Desa Selodakon, Suryanto, menilai persoalan tersebut harus menjadi evaluasi bersama, terutama bagi pendidik dan tenaga kependidikan.

Menurutnya, setiap kejadian yang melibatkan anak harus ditangani secara serius agar lingkungan pendidikan benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman.

“Ini menjadi evaluasi bagi pendidik dan tenaga kependidikan,” kata Suryanto.

Ia juga menilai perlu adanya pembinaan yang tepat terhadap pihak yang nantinya terbukti melakukan pelanggaran.

Menurut Suryanto, penyelesaian tidak cukup hanya berhenti pada perdamaian. Harus ada pembinaan dan langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Meski demikian, ia tetap mendorong seluruh pihak mengedepankan musyawarah dan mencari solusi terbaik.

“Musyawarah dan mencari solusi untuk mendamaikan,” ujarnya.

Peristiwa Disebut Terjadi di SDN Selodakon 04

Sementara itu, muncul klarifikasi mengenai lokasi kejadian.

Perwakilan guru SDN Selodakon 04, Eko Guswantoro, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi di lingkungan SDN Selodakon 04.

Saat kejadian, para siswa disebut tengah menunggu kedatangan pembina kegiatan Pramuka.

Dalam situasi tersebut, seorang siswi yang disebut sebagai korban didatangi sejumlah anak. Berdasarkan informasi sementara, anak-anak tersebut diduga berasal dari SDN Selodakon 01 dan SDN Selodakon 02.

Adapun persoalan yang diduga melatarbelakangi kejadian masih belum dapat dipastikan. Informasi sementara menyebut adanya persoalan pertemanan, dugaan kecemburuan yang berkaitan dengan seorang laki-laki, serta komunikasi melalui WhatsApp.

Motif tersebut masih membutuhkan klarifikasi dari pihak-pihak terkait sehingga tidak semestinya dijadikan kesimpulan sebelum proses mediasi dan pendalaman selesai.

Video Diduga Dibuat untuk Kemudian Disebar

Yang menjadi perhatian dalam kasus ini adalah keberadaan video yang kemudian viral.

Berdasarkan informasi yang berkembang, rekaman tersebut diduga dibuat menggunakan HP milik salah satu pihak yang terlibat. Video kemudian dikirim ke grup WhatsApp yang berisi enam orang sebelum akhirnya tersebar keluar dari grup.

Artinya, video tersebut diduga berawal dari pihak yang berada dalam lingkaran kejadian sendiri, bukan dari masyarakat yang secara kebetulan menemukan rekaman tersebut.

Namun, mengenai siapa yang pertama kali mengeluarkan video dari grup dan menyebarkannya secara lebih luas, masih menjadi bagian dari pendalaman aparat.

Mediasi Masih Berjalan

K3S Wilayah Tanggul, Titin Agustin, S.Pd., memastikan proses mediasi masih berlangsung.

“Mediasi masih terus berjalan,” ujarnya.

Di sisi lain, Pengawas Sekolah Dasar, Siti Subuh Hemi, S.Pd., meminta seluruh sekolah dasar di wilayah Tanggul memperkuat pengawasan terhadap peserta didik.

Menurutnya, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah. Orang tua juga mempunyai peran penting karena anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar lingkungan sekolah.

“Sekolah harus selalu memperhatikan para siswa dan siswinya. Kepada wali murid, karena lebih banyak waktu bersama anak-anak, kami mohon kerja samanya agar bersama-sama menciptakan lingkungan yang baik untuk anak,” pesannya.

Jangan Berhenti pada Kata “Damai”

Persoalan ini kini tidak hanya berbicara mengenai dugaan kekerasan, tetapi juga bagaimana sebuah aksi yang melibatkan anak dapat direkam dan kemudian tersebar luas di media sosial.

Karena itu, penyelesaian tidak seharusnya berhenti pada kata “damai”.

Evaluasi terhadap pengawasan siswa, pembinaan anak, pendampingan korban, serta edukasi mengenai penggunaan media sosial perlu menjadi bagian dari penyelesaian.

Sebab, ketika rekaman dugaan kekerasan terhadap anak kemudian beredar luas, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar bagi anak-anak yang terlibat.

Sekolah dan Dinas Pendidikan Belum Memberikan Keterangan. 

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah maupun Plt Kepala Sekolah SDN Selodakon 01 dan SDN Selodakon 02 belum memberikan keterangan kepada awak media.

Kabid Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Abdullah, S.Pd., M.Pd., yang hadir dalam proses mediasi juga belum memberikan keterangan mengenai hasil mediasi maupun langkah lanjutan yang akan dilakukan. (Tim)

Loading