Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono
Temuan Baru Jurnalis GWI: Korban Diduga Keracunan MBG di Karangsono Ternyata Capai Ratusan, Satgas Hentikan Operasional SPPG
Jember, rilisfakta.id – Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari. Jika sebelumnya informasi yang beredar hanya menyebut puluhan korban, hasil penelusuran lapangan Jurnalis Gabungan Wartawan Indonesia (GWI) Jember justru menemukan jumlah korban diduga telah mencapai ratusan orang, terdiri dari siswa TK, SD, guru hingga warga yang ikut mengonsumsi makanan MBG. Temuan tersebut diperoleh dari rekapitulasi data sejumlah sekolah, keterangan pihak sekolah, serta penelusuran langsung ke lokasi dan fasilitas kesehatan.
@rilisfakta.id
@portalrilisfakta.id
Kasus ini diduga dipicu oleh menu telur puyuh yang disajikan oleh SPPG Karangsono. Sehari setelah makanan MBG dibagikan, puluhan siswa mengalami mual, muntah, sakit perut, pusing hingga kejang-kejang. Seiring pendataan yang terus dilakukan, jumlah korban ternyata jauh lebih besar dari perkiraan awal.
Menyusul ramainya laporan masyarakat, Satgas MBG Kabupaten Jember yang dipimpin Ketua Harian Akhmad Helmi Luqman, bersama Satgas MBG Kecamatan Bangsalsari dan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Kabupaten Jember melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Karangsono, Kamis (16/7/2026).
Dalam sidak tersebut, Satgas menemukan masih ada beberapa hal yang harus dilengkapi.
“Untuk SLHS sudah selesai, tapi untuk IPAL masih dalam proses,” ujar Helmi.
Meski IPAL disebut telah terpasang dan berfungsi, Satgas memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Karangsono hingga seluruh proses pemeriksaan selesai.

“Kita hentikan sampai pemeriksaan selesai,” tegas Helmi di hadapan awak media.
Seluruh sampel makanan kini telah dikirim ke laboratorium milik Pemerintah Kabupaten Jember untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.

Temuan Jurnalis GWI: Data Korban Terus Bertambah
Hasil penelusuran Jurnalis GWI di lapangan menunjukkan jumlah korban jauh lebih besar dibandingkan data awal yang beredar.
Berdasarkan rekapitulasi dari Koordinator Kepala Sekolah Bangsalsari, empat SD Negeri di Desa Karangsono mencatat total 91 korban, terdiri dari 81 siswa dan 10 guru, dengan rincian:
SDN Karangsono 01: 49 siswa dan 7 guru (56 orang).
SDN Karangsono 02: 9 siswa dan 2 guru (11 orang).
SDN Karangsono 03: 12 siswa.
SDN Karangsono 04: 11 siswa dan 1 guru (12 orang).
Sementara itu, TK Dahlia II mencatat 22 peserta didik terdampak, dengan sedikitnya lima anak harus menjalani rawat inap, yakni Dea Azkayraun Hakim, Alfiano Putra Abdullah, Arsyilla, Mamanya Razancandra, serta satu anak lainnya sesuai data sekolah.
Namun, salah seorang guru TK Dahlia sebelumnya juga menyampaikan bahwa sekitar 49 dari 70 siswa mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.
Belum lagi sejumlah balita yang terdampak saat mendapat MBG dari Posyandu setempat.
Dengan belum masuknya data dari sekolah swasta, warga umum, maupun penerima MBG lainnya, Jurnalis GWI memperkirakan jumlah korban dugaan keracunan telah mencapai ratusan orang, sehingga kasus ini menjadi salah satu insiden terbesar sejak Program Makan Bergizi Gratis berjalan di wilayah tersebut.
Anak yang Bukan Penerima MBG Ikut Menjadi Korban

Korban ternyata tidak hanya berasal dari lingkungan sekolah.
Muid, warga Desa Karangsono, menceritakan anaknya, Putri, yang belum bersekolah ikut mengonsumsi makanan MBG setelah istrinya mengambil jatah makanan di rumah kader Posyandu sekitar pukul 09.00 WIB.
Menu yang disantap berupa nasi, tempe orek, telur puyuh, sayur sawi dan anggur.
Menurut pengakuan istrinya, telur puyuh tampak berlendir, namun tetap dikonsumsi.
Beberapa jam kemudian ibu dan anak tersebut mengalami mual serta sakit perut. Malam harinya mereka tidak bisa tidur dan keesokan harinya harus berobat ke Puskesmas Sukorejo.
Sejak kejadian itu, Muid mengaku tidak lagi mengizinkan anaknya mengonsumsi makanan MBG hingga ada kepastian keamanan makanan tersebut.
Rumah Sakit dan Puskesmas Dipenuhi Pasien
Usai sidak, rombongan Satgas MBG mendatangi Puskesmas Sukorejo untuk melihat langsung kondisi para korban.
Beberapa siswa masih menjalani rawat inap. Bahkan sebagian pasien harus dirawat di luar ruang perawatan karena keterbatasan tempat tidur.
Di hadapan keluarga korban, Helmi menyampaikan permohonan maaf dan memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemerintah Kabupaten Jember atas arahan Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait).

Guru Pertanyakan Tanggung Jawab SPPG
Di tengah derasnya sorotan publik, muncul suara keras dari kalangan pendidik.
Salah seorang guru SDN Karangsono 03, melalui komentar pada unggahan media sosial akun M Arif Fawaid, mempertanyakan tanggung jawab pengelola dapur SPPG terhadap para korban.
“Trus gimana tanggung jawabnya dapur kepada anak siswa TK, MI, SD Karangsono? Harus ada santunannya ini sebagai wujud komitmen penanggung jawab.”
Sementara itu, Plt Kepala SDN Karangsono 03, Uji Iskandar, S.Pd.SD, langsung menerjunkan para guru mengunjungi siswa-siswinya yang sedang dirawat usai jam pelajaran sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap para korban.
Ketua K3S Kecamatan Bangsalsari, Sumadiyono, S.Pd., membenarkan data sementara korban dari empat SD Negeri mencapai 91 orang, sedangkan Kepala TK Dahlia, Sri Wahyuni, S.Pd., menyampaikan data sementara sekolahnya terdapat 22 anak terdampak berdasarkan pendataan terbaru.

Kini publik menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Namun, dengan temuan Jurnalis GWI yang menunjukkan jumlah korban diduga telah mencapai ratusan orang, desakan agar ada transparansi hasil investigasi serta pertanggungjawaban dari pihak yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan MBG di Karangsono semakin menguat. (Catur)
![]()

