Jember, Rilisfakta.com -Tarekat merupakan salah satu jalan untuk merestorasi ajaran agama yang menyimpang dari ketauhidan, begitulah yang dikatakan oleh ustad Mulyadi seorang Tokoh spiritual Nu sekaligus pemilik optik desta asal Kemuning Jenggawah saat memberikan muqqodimah peringatan Rojab bertempat di Curah cabe Gambirono pada hari Senin, (28/02/2022) pukul 09.00 Wib.
Kalimat ini dilontarkan untuk menyikapi banyaknya Aliran dan ritual kebatinan yang menyimpang dari ajaran Islam dan sunnah. Terutama di wilayah Jember, seperti ritual yang dilakukakan oleh aliran tunggal jati beberapa pekan lalu yang menewaskan belasan pengikutnya.
“Cara mengembalikan akidah pada fitrahnya ialah dengan cara berwasilah kepada guru mursyid yang jelas sanad keilmuanya, dan bertarekat mengikuti Syari’at dan sunnah Nabinya,” ucap beliau.
Beliau juga mengupas Tesis karya Mahasiswa Uin Sunan ampel Surabaya Muhammad Basyrul Mufid. dalam Muqodimmahnya.
“Dalam praktiknya, tarekat memiliki beberapa amalan sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, di antaranya yaitu dzikir, rabitah, suluk, riyadah, tafakkur, uzlah, muraqabah.”
“Amalan dzikir dalam hal ini menjadi pusat perhatian bagi para pengamal tarekat sebab dzikir berfungsi sebagai proses penyucian diri (tazkiyah an-nafs) dari tahapan takhalli dan tahalli. Lebih jelasnya dzikir adalah
proses penyucian diri sebagai wujud dari latihan riyadllah untuk melalui tahapan takhalli (mengkosongkan diri dari sifat-sifat tercela), tahalli (menghiasi diri dengan
sifat-sifat terpuji), dan tajalli (terbukanya tabir antara seorang hamba Allah swt.”
“melalui berdzikir. Mengingat asma Allah baik di hati maupun di lisan, baik dalam keadaan susah, senang, kaya, miskin, senggang
maupun sibuk. Semua itu dilakukan agar mereka terhindar dari sifat lalai akan
kehadiran dan pengawasan Allah swt, sehingga mereka akan berhati-hati dalam bertindak dan akan selalu berada dijalan-Nya. Sesuai perintah Allah swt, agar senantiasa ingat kepada-Nya,” ucap beliau dalam muqoddimahnya.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa dzikir dalam tarekat sebagai metode untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, sedekat-dekatnya.
Menurut ustad Mulyadi orang yang dekat dengan Allah swt, hatinya akan selalu tenang, damai, khusyuk dalam beribadah, istiqamah dan giat dalam menjalankan amal salih serta segala tindak tanduknya akan baik untuk digunakan di jalan Allah swt, karena mereka sadar bahwa segala perbuatannya dilihat oleh Allah swt, dan akan diminta
pertanggungjawaban besok di hari akhir.
Menurutnya hal tersebut adalah salah satu sifat ahli tarekat yang selalu menjaga hati,
pikiran dan tingkah lakunya dari perbuatan tercela yang dapat melalaikan dan menjauhkan dirinya dengan Allah swt.
Oleh karena itu untuk bisa memperoleh sifat
tersebut seseorang harus senantiasa dzikir (ingat) kepada Allah swt, agar hati dan
pikirannya senantiasa menyebut asma Allah swt , sehingga tingkah laku yang dihasilkan akan senantiasa sejalan dengan ajaran dan perintah Allah swt, di zaman sekarang yang penuh dengan gemerlapnya duniawi serta dangkalnya moral
masyarakat membuat dunia semakin suram sehingga perlu sebuah solusi untuk
mengatasi hal tersebut.
Dari pemaparan tersebut, maka dibutuhkan suatu kajian yang mendalam.
Beliau juga berkata terkait dzikir dalam tarekat sebagai metode untuk membina dan membentuk akhlak
seseorang agar dapat menjadi manusia yang beradab di muka bumi ini.
Dengan mengkaji pandangan tokoh tarekat yang dalam hal ini adalah KH. Albazi Nawawi
(Murshid Tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah Trowulan Mojokerto) dan KH.
Mohammad Nizam ash-Safa (Murshid Tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah
Wonoayu Sidoarjo), dengan demikian diharapkan mampu menambah pemahaman
dan wawasan masyarakat mengenai pentingnya dzikir serta manfaatnya bagi kehidupan spiritual mereka, sehingga membawa mereka menjadi manusia yang berakhlak mulia dengan senantiasa mengingat Allah swt di setiap tindakan.
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.
(seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia- sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka,” pungkasnya seraya membacakan ayat.
Sumber; Ustad Mulyadi, Tokoh spiritual Mujiyono, tesis Muhamad Basyrul Muvid.
Kabiro: Catur Teguh Wiyono
![]()

