Korwil Jatim: Catur Teguh Wiyono
Dua Minggu Berselang! Korban Terdampak MBG Karangsono Kecewa, Belum Ada Klarifikasi, Permintaan Maaf, maupun Bentuk Tanggung Jawab dari SPPG 1 dan Mitra
Jember, rilisfakta.id – Kekecewaan para korban dan wali murid terdampak insiden dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berasal dari SPPG 1 Karangsono terus mengemuka. Meski sejumlah korban telah menjalani perawatan, baik rawat jalan maupun rawat inap, hingga kini mereka mengaku belum menerima klarifikasi maupun permintaan maaf secara langsung dari pihak Kepala Dapur SPPG 1 Karangsono maupun mitra penyelenggara.
Salah seorang wali murid yang anaknya menjadi korban bahkan mempertanyakan bentuk tanggung jawab penyelenggara. Melalui pesan WhatsApp kepada awak media, ia menulis, “Yo P Catur apakah korban MBG ini GK dpt kontribusi/ganti rugi dri pihak MBG…? Klo anakq n ank adiq ad BPJS yg byr sndri.”
@portalrilisfakta.id
Menindaklanjuti pertanyaan tersebut, Rilisfakta melakukan konfirmasi kepada Akhmad Helmi Luqman selaku Ketua/Anggota Tim Satuan Tugas (Satgas) Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jember melalui pesan WhatsApp. Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya kontribusi, ganti rugi, maupun bentuk pertanggungjawaban terhadap korban terdampak MBG, ia memberikan jawaban singkat, “KL ini Monggo langsung ke SPPG. Atau mitranya,” tulisnya. Dengan jawaban tersebut, Satgas MBG Kabupaten Jember mengarahkan agar pertanyaan mengenai tanggung jawab maupun mekanisme penyelesaian dikonfirmasikan langsung kepada pihak SPPG 1 Karangsono atau mitra penyelenggara.
Sebagai tindak lanjut atas arahan tersebut, Rilisfakta kemudian menghubungi Bagus selaku Kepala Dapur SPPG 1 Karangsono melalui pesan WhatsApp. Awak media menyampaikan pertanyaan yang diterima dari salah seorang wali murid dengan menuliskan, “Mas ini ada pertanyaan dari Bu Nunik TK dan disuruh bertanya ke jenengan oleh Pak Hilmi, mohon dijawab agar saya bisa menyampaikan ke dewan guru.” Pertanyaan tersebut berkaitan dengan ada atau tidaknya bantuan, santunan, maupun penggantian biaya atau “uang kaget” bagi korban terdampak MBG yang harus menjalani perawatan dan mengeluarkan biaya sendiri.
Namun hingga berita ini diterbitkan, pesan WhatsApp tersebut belum mendapatkan tanggapan dari Bagus selaku Kepala Dapur SPPG 1 Karangsono. Dengan demikian, redaksi belum memperoleh penjelasan resmi mengenai mekanisme bantuan maupun bentuk pertanggungjawaban terhadap para korban.
Di media sosial, berbagai komentar masyarakat juga menunjukkan kekecewaan atas belum adanya komunikasi resmi dari pihak penyelenggara. Akun ALL menulis, “Ada korban maka harus ada pelaku. Tidak cukup hanya ditutup sementara. Krna korban bukan 11-an anak tapi ratusan. Pihak dapur blm ada klarifikasi secara langsung dn permintaan maaf.”
Kekecewaan juga disampaikan melalui akun Facebook Awie Bar Bar. Berdasarkan informasi yang dihimpun Rilisfakta, akun tersebut merupakan milik seorang warga yang akrab disapa Awi, yang juga menjadi salah satu warga terdampak dalam insiden dugaan keracunan MBG di Karangsono. Dalam komentarnya yang ditulis menggunakan bahasa Madura, Awi menyampaikan, “Sy sebagai warga terdampak dr keracunan benxak abi’en kok reng…. Satu kata tuk kepala dapur dan kepala gizi MBG Karangsono tak ada maaf bagimu…. Engkok benxak abi’en dele parak eborongah obet apotik, duggen dek karen duggen. Pas tadek kaberreh bejen aporah atau dek remmah tah???”
Melalui komentarnya tersebut, Awi mengungkapkan kekecewaan karena menurutnya para korban harus berupaya sendiri mencari pengobatan dan membeli obat, sementara hingga berita ini ditulis belum ada komunikasi secara langsung, klarifikasi, maupun permintaan maaf dari pihak Kepala Dapur maupun Kepala Gizi SPPG 1 Karangsono kepada para korban.
Komentar serupa juga disampaikan akun Benoe Art yang menulis, “Tuntut ganti rugi & tutup permanen.” Sementara akun Aliya Firhan mempertanyakan perhatian terhadap korban dengan menulis, “Anehnya, apa yang korban dapatkan dari negara? Kenapa negara (pemerintah setempat dan unsur terkait) tidak ada tanggapan melihat kasus ini, seperti permintaan maaf sebagai wujud pelipur lara bagi para korban.”

Berbagai komentar tersebut mencerminkan harapan masyarakat agar persoalan ini tidak berhenti pada penghentian operasional sementara semata. Warga berharap ada sikap terbuka dari penyelenggara berupa klarifikasi kepada publik, permintaan maaf kepada para korban, serta penjelasan mengenai bentuk pertanggungjawaban maupun bantuan bagi keluarga yang terdampak.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat pernyataan resmi dari Kepala Dapur SPPG 1 Karangsono maupun pihak mitra terkait permintaan maaf kepada korban, klarifikasi kepada publik, mekanisme bantuan atau penggantian biaya bagi korban, meskipun Rilisfakta telah berupaya melakukan konfirmasi melalui Ketua/Anggota Satgas MBG Kabupaten Jember maupun langsung kepada Kepala Dapur SPPG 1 Karangsono melalui pesan WhatsApp. (Tim)
![]()
